|
|
ayo gabung grup di:
 |
|
Kekerasan dan Ilusi tentang Identitas
Amartya Sen
Terjemahan: Arif Susanto
Pengantar: Gumilar Rusliwa Somantri
ISBN 979-1260-00-1
238 + xxxii hlm.; 14 x 20,3 cm.
Rp 52.500,-
PENERIMA HADIAH NOBEL EKONOMI 1998
Amartya Sen adalah ekonom yang tak
biasa. Bidang filsafat dan kebudayaan yang digelutinya banyak
mempengaruhi teori-teori monumentalnya yang telah mengubah
berbagai kebijakan pembangunan di negara berkembang.
Berangkat dari pengalaman masa kecilnya, Sen menggali konsep
yang banyak disalahpahami tentang identitas. Pada usia 11 tahun
Sen menyaksikan seorang buruh Muslim ditikam hingga tewas dalam
kerusuhan sektarian di India. Para penikamnya dari kelompok
Hindu sebenarnya juga buruh yang sama-sama miskin. Lalu mengapa
kesamaan identitas kelas ekonomi ini bisa terlupakan dan
tergantikan secara membabi buta oleh
identitas keagamaan?
Dengan menelusuri isu-isu multikulturalisme, pasca-kolonialisme,
fundamentalisme, terorisme, dan globali-sasi, Sen membongkar
stereotip-stereotip soal Timur dan Barat dan menghantam keras
pandangan picik soal identitas yang kini menjadi pemicu utama
pertikaian-pertikaian kontemporer.
Dilengkapi kata pengantar Prof. Dr. Gumilar Rusliwa Somantri
(kini Rektor Universitas Indonesia)
"Membaca Sen, Membaca Realitas Kita". |
|

Buku ini
telah diulas di:
|
► |
"Memikirkan Kembali
Makna Identitas"
(Jurnal Nasional, Minggu I April 2007). |
|
► |
"Menggugat
Identitas Tunggal"
(Seputar Indonesia, 15 April 2007). |
|
► |
"Agar Dunia Tak
Dilumuri Semangat Bermusuhan"
(Koran Tempo, 29 April 2007). |
|
► |
"Ke Honolulu bersama
Amartya Sen dan Identitas yang Mengada-ada" (resensi blog
http://teguhtimur.com/ 2008/08/20/, 20 Agustus 2008). |
|
► |
"Kritik
Pengklasifikasian Tunggal Identitas" (www.jumpaonline.com, 28
April 2009). |
|
► |
"Mengungkap Selubung
Kekerasan dalam Identitas" (Lembaga Pers Mahasiswa DIANNS
Universitas Brawijaya, Malang, 8 Juli 2009). |
|
► |
Dipakai dalam silabus
mata kuliah "Filsafat dan Teori Kebudayaan" Program Studi Falsafah
dan Agama Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (Uhamka),
Jakarta. |
|
|
|