| |
Melihat
Globalisasi dari Tepi Lapangan Bola
Imam
Hidayah
http://taman-bunga.blogspot.com
10
Agustus 2006
Franklin
Foer, redaktur senior The
New Republic,
mengambil cuti delapan bulan dan menyambangi satu-persatu
kantung sepak bola dunia. Hasilnya sebuah buku yang nyaman
dibaca dan menambah deras pemasukan pengetahuan bagi kepala
pembacanya.
TULISAN-tulisan itu melulu tentang sepak bola. Benar-benar
tak jauh-jauh dari situ: profil kesebelasan, kelompok
pendukung, arsitektur stadion, manajemen, pemain, pelatih,
dan tetek-bengek sepak bola lainnya. Tapi kemudian
tulisan-tulisan itu bisa menjadi pengantar “kajian tak lazim
tentang sosial-politik globalisasi”. Tulisan-tulisan ini
sekelas tulisan The New Republic, tempat Franklin Foer,
penulis buku ini bekerja. The New Republic adalah
majalah papan atas di Amerika Serikat yang terbit sejak
tahun 1914 dan berkantor di pusat pemerintahan AS,
Washington. “Ada 16.800 majalah di negara ini,” kata Stephen
Glass dalam Shattered Glass, sebuah film tentang
dirinya, penulis muda yang pernah bekerja di The New
Republic. “Tapi hanya satu yang memanggil dirinya majalah
Air Force One. Dan itulah ketegangan bekerja di The New
Republic. Kau dibayar kurang, jam kerja brutal. Tetapi apa
yang kau tulis dibaca orang-orang yang berpengaruh: presiden,
pembuat undang-undang!”
Franklin
Foer mengajukan cuti delapan bulan dari pekerjaaannya demi
gagasan yang ia akui sendiri pada awalnya mungkin akan
ditertawakan agennya. Alih-alih menertawakan, agennya malah
menanggapi gagasan Foer ini secara serius.
Gagasannya sederhana saja. Gagasan ini pula yang membuat
mengapa buku ini dapat menjadi referensi tambahan tentang
sosial-politik globalisasi. Franklin Foer melihat di balik
segala macam centang-perenangnya globalisasi, juga segala
silang sengkarut reaksi atas kehadirannya, globalisasi
nyata-nyata telah membawa dunia ke dalam satu kondisi:
integrasi antara pasar, negara-bangsa, dan teknologi yang
semakin tak bisa ditawar lagi. Tentu saja di sini Foer
mengutip Thomas Friedman, pewarta agung tata dunia baru ini.
Tapi Foer jauh lebih spesifik lagi, “Di lapangan pun Anda
bisa menyaksikan globalisasi.”
Dan memang demikianlah kenyataannya.
Foer menggambarkan bagaimana batas dan identitas nasional
seolah-olah lenyap begitu saja ditendang ke dalam keranjang
sampah sejarah sepak bola. Apakah segala haru-biru Piala
Dunia yang terjadi nun di Jerman sana pada saat ini adalah
bukan bagian dari pesta kita yang ada di sini, Indonesia?
Sekalipun kesebelasan Indonesia tak turun ke lapangan hijau
di Jerman, rasa-rasanya apa yang terjadi di sana adalah
pesta kita juga. Dan tampaknya dalam hal ini Foer benar,
“Sepak bola tampaknya jauh lebih akur dengan proses
globalisasi ketimbang perekonomian manapun di muka bumi.” (hal
ix).
FOER menyambangi satu-persatu kantung-kantung sepak bola
dunia itu. Dan dengan apik ia mengangkat sisi-sisi dunia
sepak bola yang sejauh ini terlalu sering dilupakan para
pewarta olah raga.
Ia, misalnya, mampu mengangkat lagi sebuah hasil penelitian
antropologi milik Ivan Colovic yang memaparkan perihal
hubungan hooligan Serbia dengan Perang Balkan, tentang
bagaimana klub-klub pendukung kesebelasan sepak bola pada
masa-masa itu berubah secara sempurna menjadi media
rekruitmen pasukan perang dan stadion-stadion berubah
menjadi ajang kampanye nasionalisme. Arkan, seorang gangster
kriminal yang belakangan menjadi kaki tangan militer, adalah
fanatikus Red Star, kesebelasan sepak bola Serbia. Pada masa
perang Balkan itu, dia bahkan menjadi sosok yang begitu
mitis dan legendaris, tokoh yang akan dikenang orang sebagai
“pahlawan”. Dan dia adalah seorang hooligan sejati, yang
membuatnya memiliki posisi istimewa bagi Slobodan Milosevic.
Masyarakat tersentak melihat foto-foto yang berbicara banyak
soal hooligan dan perang Balkan ini. Salah satu foto yang
ada menunjukkan pose Arkan mencium presiden Republik Serbia
Bosnia sementara ia berdiri di atas mayat seorang warga
Muslim.
Franklin Foer, di bagian awal buku ini, begitu cermat
bercerita soal fenomena hooliganisme dalam dunia sepak bola.
Dan dengan jelas ia menolak hipotesa para pendukung teori
yang mengatakan bahwa semakin maju struktur perekonomian,
berarti semakin maju pula suatu sistem kemasyarakatan (politik,
sosial, budaya) yang akan menyebabkan watak masyarakat itu
menjadi lebih liberal, toleran, dan demokratis. Dan itu juga
sekaligus membantah barisan para sosiolog yang mengatakan
bahwa fenomena hooliganisme (“aib bagi masyarakat beradab”,
kata Margareth Thatcher), adalah soal “pria-pria tertekan,
yang mata pencahariannya di industri telah dialihkan ke
buruh-buruh Dunia Ketiga.” (hal.9).
Glasgow contohnya. Kota ini menjadi tempat dibesarkannya
banyak tokoh pencerahan Skotlandia, termasuk Adam Smith. Di
kota ini, kata Foer, “Anda bisa merasa tengah berdiri di
suatu simpang peradaban tempat sejarah sudah berakhir,
sebagaimana dibayangkan oleh teoretikus politik Francis
Fukuyama.” (hal.33). Ya, tentu saja kapitalisme lah
pemenangnya. Tapi di Glasgow pula Anda bisa melihat seorang
anak bernyanyi teriak-teriak, “Lutut kami berkubang darah
orang Feni”, sementara di sampingnya berdiri pula ayahnya
yang turut bernyanyi. Itu lagu tentang pembantaian yang
sering dinyanyikan para pendukung Glasgow Rangers kepada
para pendukung Glasgow Celtics.
Globalisasi yang dipaparkan Foer dalam bukunya ini memang
berkisar di permasalahan kultural, dan bukannya struktur
ekonomi. Tapi justru demikianlah yang menjadikan buku ini
menarik. Foer menunjukkan bagaimana globalisasi memang telah
berhasil menghanguskan pranata-pranata lokal lewat merk-merk
global semacam Nike dan Adidas, tapi justru tak berhasil
menghanguskan budaya sepak bola lokal dan pernak-perniknya
semacam tawuran dan korupsi. Sebaliknya Foer curiga bahwa
globalisasi justru memperkuat entitas-entitas lokal ini (korupsi
dan tawuran pendukung sepak bola).
Buku ini berjalan dengan alur yang bermula dari kisah suram
persepakbolaan (hooliganisme, komodifikasi agama dan
nasionalisme, rasisme, sampai korupsi) dan kemudian beralih
ke titik cerah nasionalisme yang menawan seperti yang
terjadi di kesebelasan FC Barcelona (Barca). Nasionalisme
yang mencerahkan di mana tak ada pertarungan fisik
antarpendukung. Di bab akhir, dengan nada optimistik,
Franklin Foer bercerita soal sepak bola dan perang budaya di
Amerika. Di sini bahkan ia dengan leluasa mengecam para
eksekutif muda yang menggemari sepak bola seperti mereka
menggemari seiris kue keju impor, yakni mereka yang berasal
dari pemukiman yang “rasio starbucks per kapitanya amatlah
tinggi, sehingga tak sejalan sama sekali dengan gelora jiwa
kelas buruh.” (hal.239).
Meski Foer mengaku turut pula memerangi globalisasi yang
memang tampak tak beres ini, ia juga berkata,
“Ujung-ujungnya, saya merasa sulit untuk memusuhi
globalisasi. Dengan semua kekurangannya, globalisasi telah
menghadirkan sepak bola ke pelosok dunia yang paling jauh.
Serta ke dalam hidup saya sendiri.” (hal.xii).
Selain itu semua, yang patut diacungi jempol adalah hasil
terjemahan buku ini. Tak mudah menerjemahkan sebuah karya
tulis yang bagus, terlebih jika itu berbentuk semacam
jurnalisme sastrawi. Dan penerjemah buku ini mampu
menerjemahkan buku ini dengan apik dan nyaman dibaca. Tanpa
sungkan, dan ini sama sekali tak mengaburkan maksud penulis
sesungguhnya, penerjemah berani memakai kata-kata yang khas
Indonesia semacam bonek atau siskamling.
|