|
Postmodern Menjelang Ajal
Fidelia Eka S
Media
Indonesia,
Sabtu, 18 November 2006
"Aku punya alasan untuk
meyakini bahwa hidupku berada dalam bahaya. Kalau-kalau aku
tewas dengan keji, teorilah yang akan menuntun kepada
pembunuhnya. Perlu sebuah teori untuk menangkap teoretisi -
Ettore Gnocchi."
Demikian catatan yang
ditemukan di dalam tubuh Ettore Gnocch, bapak posmodernisme
Amerika Serikat (AS) dan profesor di California, Berkeley (hlm.
20). Ia terbunuh dengan empat cara yang berlainan dan pada
saat yang bersamaan. Di kepalanya terdapat lubang merah
kecil yang mengeluarkan tetesan darah tipis, gagang pisau
kue warna perak menyembul di punggung, anak panah kayu
panjang dengan bulu berwarna kuning menancap di pipi
kanannya, terakhir segelas anggur yang menyebarkan bau
belerang dan baru saja ia minum.
Pembunuhan ini menyeret enam
nama yang diduga memiliki motif yang kuat sebagai pelakunya.
Shosana TelAviv, istri Gnocchi, juga seorang posmodernis,
yang dicurigai berselingkuh dengan Alain Fess, seorang
filsuf Prancis. Asisten dan mahasiswa pascasarjana bimbingan
Gnocchi, Myra Prail yang diduga mendapatkan 'bantuan' lebih
dari sekadar akademis. Seorang linguis dan posmodernis Rusia,
Slavomir Propp yang telah menuduh Gnocchi mencuri gagasannya.
Muncul juga tokoh Basil Constant, seorang penulis Inggris
yang belum diketahui hubungannya dengan korban.
Terakhir, Miyako Fuji, dosen
filsafat Universitas Tokyo yang digambarkan membenci dan
tidak menyukai Gnocchi. Misteri pembunuhan ini diselidiki
Inspektur Kepolisian San Fransisco Solomon Hunter yang penuh
teka-teki. Ia digambarkan sebagai detektif yang tidak tampak
cerdas.
Novel misteri pembunuhan ini
merupakan karya Arthur Asa Berger yang kesembilan, selain
The Hamlet Case, Durkheim is Dead!, The
Rashomon Case, dan Terminal Papers. Arthur
mencoba menawarkan penjelasan yang sangat sederhana mengenai
pembunuhan.
Buku ini menjadi menarik
karena tidak bisa tidak harus mengungkapkan pemaknaan
tentang posmodernisme. Berger mencantumkan empat nama besar
posmodernis abad ke-21, yaitu Jean Baudrillard,
Jean-Francois Lyotard, Jurgen Habermas, dan Fredic Jameson.
Sebagai pengantar, Berger
mendefinisikan posmodernisme berdasarkan pandangan filsuf
Prancis Michel Foucault yang menyatakan manusia terus
memberikan penafsiran yang berbeda-beda. Posmodernisme tidak
lagi menyediakan tempat bagi sudut pandang yang sama dan
simplisistis tentang hidup dan sejarah (hlm 25). Nietzsche
justru menegaskan dunia sudah tidak lagi terbatas untuk
ditafsirkan. Akan selalu timbul perspektif baru yang mengisi
kehidupan manusia.
Posmodernisme menampilkan
realitas yang berbeda-beda berdasarkan pengalaman
masing-masing, misalnya di mana kita lahir, dibesarkan,
gender, ras, kepercayaan, dan pendidikan (hlm 27). Berger
mencoba memperlihatkan bahwa era posmodernisme yang sedang
dinikmati ini sudah tidak lagi berbicara tentang
narasi-narasi yang besar (grandnarasi).
Melalui proses interogasi
yang dilakukan Hunter kepada enam tersangka tersebut, ia
mencoba menyisipkan tidak hanya mengenai posmodernisme
melainkan juga pemikiran yang berkaitan erat dengannya,
yaitu feminisme hingga marxisme. Berger, sekali lagi, dengan
sederhana mendefinisikan kedua pemikiran besar tersebut
dalam adegan interogasi yang singkat. Feminisme, melalui
bibir Miyako Fuji, disintesiskan dengan posmodernisme
sebagai pemikiran yang tertarik dengan kekuasaan namun bukan
melalui maskulinitas dan falogosentrisme (hlm.79).
Permasalahan feminisme
kembali terdesak oleh kritikan bahwa pemikiran tersebut
hanya jatuh kepada metanarasi semata. Hal sama yang
dikhawatirkan terjadi pada posmodernisme. Berger mulai
meragukan keberadaan posmodernisme. Namun, tidak berani
memastikan apakah kita justru sedang berada di dalam keadaan
yang post-postmodern. Dalam hal ini, Berger memang
tidak terlihat menambahkan sesuatu yang baru.
Kekuatan novel ini terletak
pada fakta akademis yang solid. Ia menuliskan daftar pustaka
sebagai referensi ilmiah. Berger terkesan hanya menuliskan
kembali pemikiran para filsuf tersebut. Tidak hanya
memaparkan kelebihan mereka, ia juga mengutarakan
kritikan-kritikan yang muncul. Berger memfokuskan
pembongkaran posmodernisme pada empat filsuf besar sekaligus,
yaitu Jean-Francois Lyotard, Jean Baudrrilard, Jurgen
Habermas, dan Fredic Jameson.
Dalam surat Gnocchi yang
ditulis untuk keempat filsuf besar tersebut, dipaparkan
secara gamblang garis besar pemikiran masing-masing.
Pembahasan mengenai Lyotard tidak lepas dari persoalan
narasi dan metanarasi. Keadaan posmodern sudah tidak
memerlukan adanya narasi tidak seperti revolusi ilmu
pengetahuan. Filsafat tidak bisa lagi berdiri pada satu
sudut pandang semata, bahkan mungkin tidak perlu lagi
pendasaran yang ajeg.
Lyotard mencoba menjelaskan
keadaan manusia yang posmodern sebagai manusia yang tidak
terikat dengan narasi. Manusia tidak bisa lagi dipandang
dalam sudut pandang tertentu, misalnya ras, agama, atau
gender. Apalagi jatuh pada metanarasi yang sebenarnya sudah
tidak bisa lagi dipertahankan. Ia juga mempermasalahkan
bentuk-bentuk pelegitimasian yang terjadi. Legitimasi
tradisional yang didapatkan dari kelompok-kelompok tertentu
sebagai pengakuan identitas diri sudah seharusnya
ditinggalkan masyarakat yang berada di dunia yang tidak
mengenal batasan informasi ini.
Surat kedua ditujukan Jean
Baudrillard yang memperkenalkan konsep simulasi dan
simulakra. Baudrillard menjadi sangat menarik karena
mendefinisikan keadaan posmodern sebagai suatu keadaan yang,
pada akhirnya, hanya sebagai bentuk simulasi semata.
Realitas tidak bisa lagi didefinisikan secara sederhana,
misalnya secara empirik atau dari sudut pandang sosial
politik. Melainkan, membangun suatu hiperealitas. Bagi
Baudrillard, tidak akan ada lagi realitas yang dianggap
sebuah kenyataan. Contoh sederhana, adalah Disneyland
yang berusaha menampilkan dunia dongeng sereal mungkin dan
dipahami oleh manusia sebagai suatu hal yang nyata. Suatu
saat bahkan mungkin tidak ada batasan antara yang objek dan
subjek.
Semua ini tidak terlepas dari
sumbangsih teknologi dan informasi yang semakin mengalienasi
keberadaan manusia dengan kenyataan. Dunia maya semakin lama
semakin menyatu bahkan mungkin sudah tidak bisa dibedakan
lagi di antara keduanya. Menurut Baudrillard, semakin
majunya teknologi dan informasi kenyataan yang diamini
adalah hiperrealitas.
Habermas mengambil posisi
yang berbeda, melalui surat ketiga Gnocchi. Habermas,
sebagai pemikir yang rasional, mendefinisikan masyarakat
posmodern sebagai masyarakat yang mampu menggunakan nalar
dan berpikir secara kritis. Menurutnya, pemikiran yang
irasional dan hanya becermin pada tradisi pencerahan ataupun
modern harus segera ditinggalkan. Komunikasi antarkomunitas
merupakan prasyarat utama masyarakat posmodern. Di mana
terjadi partisipasi yang aktif, diskusi, konsensus dan
kesepakatan antarmasyarakat. Teori komunikasi Habermas ini
menjadi penting untuk mengembalikan kesadaran manusia yang
cenderung irasional karena tidak bisa berkomunikasi
antarkomunitas. Permasalahan yang dihadapi dunia saat ini,
misalnya terorisme, pelanggaran HAM, dan lain-lain karena
jalur komunikasi sudah tertutup lintas komunitas. Sebaliknya,
perasaan emosi yang berlebihan semakin membentengi satu
komunitas terhadap komunitas yang lain.
Menurut Habermas, komunikasi
yang aktif merupakan ciri masyarakat posmodern. Dengan
perkembangan prasarana informasi dan teknologi yang kian
pesat, batasan-batasan identitas komunitas yang tradisional
seharusnya bisa dihancurkan. Melalui teknologi, sudah tidak
ada lagi terbatas oleh waktu dan ruang.
Selanjutnya, ditujukan kepada
filsuf posmo Marxis, Fredric Jameson. Pemikiran besar
Marxisme merupakan pemikiran yang hingga kini masih
melahirkan pengikut-pengikut yang setia. Marxisme melahirkan
negara tanpa-kelas dan tidak ada ketergantungan terhadap
kapital. Jameson menyoroti mengenai bentuk baru dari
kapitalisme yang justru kian berkembang memasuki abad 21.
Jameson mengritik bahwa
posmodernisme hanyalah perpanjangan dari suatu bentuk baru
kapitalisme modern. Bentuk ini tidak hanya berurusan dengan
persoalan kapital semata melainkan pembentukan kesadaran
masyarakat yang digiring pada dominasi budaya kultural
tertentu. Kesadaran manusia sekarang dipenuhi oleh citra
semata.
Berger menawarkan kelengkapan
pemahaman akademik, namun tidak begitu memberikan provokasi
terhadap pemikirannya sendiri. Sebagian besar buku ini
memaparkan pemahaman tentang posmodernisme ketimbang
menemukan pembunuh Gnocchi. Aksi detektif yang ditampilkan
didominasi dengan penjelasan teorisasi para filsuf tersebut.
Walaupun
demikian, akhir cerita dikemas dengan cara yang konsisten.
Berger rupanya ingin menepati janjinya menutup sebuah
pembunuhan seorang pemikir dengan pemikiran besar juga.
FIDELIA EKA S
WARTAWAN MEDIA INDONESIA
|