| |
Melacak Pembunuh, Mengenal
Posmo
Windo Wibowo
Seputar Indonesia,
Minggu, 1 Oktober 2006
KINI, untuk mengenal sebuah
pemikiran, sudah beragam cara dapat digunakan. Satu di
antaranya adalah membungkus dan meletakkan ide tersebut
melalui sebuah cerita atau kisah. Arthur Asa Berger, seorang
pengarang sekaligus pakar media komunikasi dari Emeritus San
Francisco State University, memfasilitasi kita akan hal itu.
Lewat kisah misteri
akademistiknya, ia meramu berbagai ide serta lakon, kemudian
merajutnya dalam ”mahfus” yang terhidang dalam sebuah novel
berjudul Terbunuhnya Seorang Profesor Posmo. Dengan
cerita fiksi setebal 186 halaman ini, kita akan dibawa untuk
melacak, merabaraba, dan menyaksikan, siapakah pembunuh
Profesor Posmo itu.
Tak hanya di
situ, kita juga akan memperoleh pengetahuan dari para
penokohan dan juga tentang teori-teori dari para pemikir
besar. Adalah Ettore Gnocchi namanya. Dia adalah seorang
pemikir postmodern kenamaan. Tiba-tiba, dalam sebuah jamuan
makan di rumahnya, ia ditemukan tewas dalam keadaan yang
mengenaskan.
Di keningnya,
ada bekas lubang peluru yang menganga. Di pipinya, tertancap
anak panah. Selain itu, juga didapati pisau kue menyembul di
punggungnya, dan asap racun tercium dari minumannya.
Bagaimana mungkin seorang dibunuh dengan empat cara
sekaligus pada tempat yang sama?
Dan siapakah,
kira-kira yang telah membunuhnya? Pada saat Gnocchi
ditemukan tersungkur di atas meja makan dalam keadaan hayat
tak dikandung badan; tewas, di sana ada istrinya dan
beberapa tamu yang sengaja diundang untuk membicarakan
penggarapan sebuah seminar tentang pemikiran postmodern.
Semua yang
hadir, memiliki potensi besar untuk menjadi tersangka. Tak
terkecuali istrinya, Shoshana Telaviv, yang juga seorang
postmodernis dan sama-sama profesor di Berkeley. Begitu pun
dengan Slavomir Propp, linguis Rusia yang menganggap Gnocchi
telah mencuri ide-idenya.
Atau juga
Myra Prail, mahasiswi pascasarjana bimbingan Gnocchi yang
pernah tidur seranjang dengannya. Alain Fess, filsuf muda
brilian yang telah menulis sebuah buku penting tentang
postmodern, kariernya lantas mendadak tersendat. Fess
menulis disertasinya di bawah bimbingan Gnocchi dan
hampir-hampir tidak tahan melewati pengalaman tersebut.
Ada gosip, bahwa ia telah
seranjang dengan Shoshana Telaviv. Atau, Miyako Fuji, dosen
filsafat dari Universitas Tokyo. Ettore Gnocchi dulu juga
pembimbing disertasinya. Dia tidak menyukai Gnocchi, bahkan
membencinya. Semuanya, memiliki alasan kuat untuk menjadi
tersangka (pembunuh).
Tentunya, tak mudah untuk
mengungkap siapa pembunuh Profesor Posmo tersebut. Untuk
melacak jejak si pembunuh, inspektur Solomon Hunter sadar,
bahwa ia harus membongkar terlebih dahulu apa sebenarnya
postmodern itu. Perlu sebuah teori untuk menangkap
teoretikus, begitu yang pernah ditulis oleh Gnocchi.
Siapakah
Baudrillard, Foucault, Lyotard dan juga tokoh seperti
Jameson serta Habermas yang sering disebut-sebut oleh para
tersangka?
Apa pula yang mereka pikirkan? Apa pentingnya bagi misteri
ini, serta bagi kehidupan kita sehari-hari? Selamat membaca,
selamat melacak.
WINDO WIBOWO
PENIKMAT BUKU DAN FILSAFAT. GIAT
DI CAK TARNO COMMUNITY (CTC), DEPOK
|