| |
Belajar Postmodernisme Lewat Kisah Detektif
Usman KS
Koran Tempo,
Minggu, 8 Oktober 2006
Ettore Gnocchi, seorang profesor
postmodern, sedang mengadakan jamuan makan malam di rumahnya,
ketika tiba-tiba listrik padam. Tatkala listrik menyala lagi,
astaga, Gnocchi terkulai tanpa nyawa di meja makan. Peluru
menembus keningnya, anak panah beracun menancap di pipinya,
pisau kue menyembul di punggungnya, serta racun tercium dari
minuman yang meleleh keluar dari mulutnya.
Selain Shoshana TelAvif, istri
Gnocchi, mereka yang hadir dalam jamuan makan malam itu
adalah Slavomir Propp, Alain Fess, Myra Prail, Basil
Constant, dan Miyako Fuji. Mereka tengah membicarakan
rencana penyelenggaraan seminar postmodernisme.
Tapi bagaimana mungkin seseorang
dibunuh dengan empat cara sekaligus pada waktu bersamaan?
Siapa kira-kira yang membunuhnya? Apakah istrinya, Shoshana,
yang juga profesor filsafat? Atau Slavomir, linguis Rusia
yang menuduh Gnocchi mencuri ide-idenya? Alain Fess,
cendekiawan Prancis yang konon pernah seranjang dengan
Shoshana? Myra Prail, mahasiswa tingkat doktoral bimbingan
Gnocchi yang mungkin merangkap sebagai selingkuhannya? Basil
Constant, novelis nyentrik asal Inggris? Atau Myako Fuji,
mantan mahasiswi Gnocchi yang membencinya?
Inspektur Solomon Hunter datang
menyelidiki kasus kematian Ettore Gnocchi. Untuk membongkar
kasus ini, tak dinyana, Hunter harus mempelajari
postmodernisme. Pada titik inilah, Arthur Asa Berger,
penulis buku ini, menempatkan kita pada posisi Detektif
Solomon Hunter yang harus mempelajari postmodernisme untuk
membongkar kasus tersebut.
Berger menuntun pembaca
mempelajari postmodernisme melalui interogasi yang dilakukan
Detektif Hunter terhadap para tokoh yang hadir dalam jamuan
makan malam itu. Pembaca juga dituntun mempelajari
postmodernisme melalui penyelidikan Hunter atas surat-surat
Gnocchi kepada para pemikir postmodern yang akan diundang
berbicara dalam seminar postmodernisme itu. Melalui
interogasi dan surat-surat Gnocchi itu, Hunter –dan tentu
saja pembaca—berkenalan dengan pemikiran para pemikir
postmodern, seperti Lyotard, Baudrillard, dan Foucault,
serta para pengkritik mereka, seperti Habermas dan Fredric
Jameson. Untuk memberi konteks, Berger juga mengutip
pemikiran para pemikir postmodern secara langsung dari karya
mereka.
Melalui penyelidikan yang
dilakukan oleh Hunter itulah, kita, para pembaca, mengetahui
apa sesungguhnya postmodernisme itu. Pertama, postmodernisme,
seperti dikemukakan oleh Lyotard, bisa diartikan sebagai
keraguan pada metanarasi. Metanarasi sendiri adalah
narasi-narasi agung yang selama ini kita yakini kebenarannya,
seperti modernisme, kapitalisme, atau Marxisme. Dengan
demikian, postmodernisme bisa dikatakan sebagai penolakan
terhadap modernisme. Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa
mengambil contoh bahwa perkawinan itu modern, sedangkan
selingkuh atau seks itu postmodern.
Kedua, postmodernisme adalah
suatu kondisi kontemporer yang menekankan eklektisisme atau
percampuran beragam budaya dan gaya hidup. Definisi seperti
ini juga dikemukakan oleh Lyotard. Tengoklah kini, orang
mendengar musik reggae, menonton film koboi, menyantap
McDonald's untuk makan siang dan masakan lokal untuk makan
malam, serta menggunakan parfum Paris di Tokyo dan pakaian
"retro" di Hong Kong.
Ketiga, postmodernisme adalah
suatu kondisi ketika orang lebih mempercayai simulasi atau
hiperealitas ketimbang realitas itu sendiri. Definisi ini
dikemukakan oleh Baudrillard. Baudrillard mencontohkan,
orang kini lebih mengidealkan rumah-rumah yang ada di media
massa ketimbang rumah sungguhan.
Keempat, postmodernisme,
sebagaimana dikatakan oleh Foucault, adalah kondisi ketika
tidak ada makna tunggal di dunia ini. Menurut Foucault,
segala sesuatu di dunia ini harus dipahami dari berbagai
cara atau perspektif. Makin banyak perspektif yang kita
miliki atas sesuatu makin baik pula pandangan kita tentang
sesuatu itu. Karena itu, Foucault disebut seorang
perspektivis.
Tapi, bagi Fredric Jameson,
postmodern itu sesungguhnya cuma nama bagi kebudayaan di
tahap mutakhir kapitalisme dan terkait dengan kebangkitan
korporasi multinasional serta hubungan antara
korporasi-korporasi ini dengan situasi militer-industrial
tertentu. Dengan begitu, bisa dikatakan, menurut Jameson,
postmodernisme merupakan kelanjutan dari modernisme.
Kritik terhadap postmodernisme
juga datang dari Jurgen Habermas. Menurut Habermas,
postmodernisme cenderung mengutamakan emosi dan
irasionalitas serta gaya. Menurut Habermas, komunikasi
menentukan segalanya. Itu artinya Habermas adalah pembela
modernisme.
Setelah mengikuti penyelidikan
Hunter atas kematian Gnocchi –atau lebih tepatnya
penelusuran Hunter atas postmodernisme—pembaca akan bisa
menduga-duga bahwa kematian sang pemikir postmodernisme tak
jauh-jauh dari gaya atau fenomena postmodernisme itu sendiri.
Melalui buku
ini, tak ayal, Berger telah menyediakan sarana yang unik dan
mengasyikkan untuk mempelajari postmodernisme. Anda tak akan
sabar membacanya hingga tuntas agar segera mengetahui
penyebab sesungguhnya kematian sang profesor posmo,
sekaligus memahami postmodernisme.
USMAN KS
PENCINTA PUSTAKA
|