Unduh katalog PDF (± 800 Kb)
 
Non-fiksi
     Globalisasi
     Ekonomi-Politik
     Sosial
     Filsafat
     Kajian Budaya
     Kajian Indonesia
 
Fiksi / Sastra
     Novel / Cerpen
     Puisi
    
SERI Issues of Our Times
SERI Mengkaji Anarkisme
    
Akan terbit !!
 
 Pesan buku
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 

 

Kata-katanya Sejernih Kristal

 

Agus Bachtiar

TEMPO, 5 Februari 2006

 

Tan Malaka memang punya pesona. Sepanjang tahun lalu paling tidak terbit lima buku yang mengkaji Tan Malaka. Dan satu yang menarik adalah buku yang berasal dari kumpulan pamfletnya sendiri, disatukan di bawah judul Merdeka 100%.

 

Tan Malaka bisa memukau bukan cuma atas apa yang ditulisnya, namun juga dari cara dia menuliskannya. Pamflet-pamflet dalam "Merdeka 100%" ini ditulis dalam format percakapan antara kelima tokohnya: bernama Apal (cendekiawan), Si Toke (pedagang kelas menengah), Si Pacul (petani), Denmas (priyayi), dan Si Godam (buruh). Percakapan mereka berkisar pada kemerdekaan, rencana ekonomi, dan taktik perjuangan bersenjata. Harus diingat bahwa Tan Malaka menuliskan pamflet-pamflet ini di Surabaya menjelang akhir tahun 1945, sehingga ketiga tema tersebut harus diberi kerangka dalam konteks proklamasi kemerdekaan Indonesia beberapa bulan sebelumnya.

 

Inilah yang membedakan buku ini dari, misalnya, Madilog. Madilog, mahakaryanya, ditulis ketika kemerdekaan Indonesia masih menjadi idaman, sementara pamflet-pamflet ini ditulis ketika kemerdekaan itu sudah riil namun Indonesia terancam dijajah kembali. Tan Malaka bermaksud lebih praktis dengan buku ini. Bila Madilog sengaja dimaksudkannya sebagai karya “filsafat kaum murba”, buku ini hendak membumikan “filsafat” tersebut ke dalam bahasa rakyat kebanyakan, bahasa kaum murba itu sendiri. Bila Si Godam atau lainnya mulai melantur ke filsafat, Pacul seringkali mengingatkannya.

 

Bagi Tan Malaka, tak ada jalan lain untuk menuju Merdeka 100% selain membangun sektor industri berat yang kukuh. Kita tahu, kita justru menggencarkan ekspor bahan mentah dan mengimpor barang jadi. Hasilnya: ketergantungan. Begitu pula dengan modal asing. Jauh-jauh hari Tan Malaka sudah mengingatkan: “Kapital-asing itu kalau ditanam begitu saja dalam suatu Negara Merdeka bisa mengacaukan politik Negara Merdeka itu. Bisa mengadudomba penduduk.” (hlm. 32-33)

 

Tak semua orang harus setuju dengan tesis-tesis Tan Malaka. Dari kacamata sekarang beberapa praksis politik yang diajukannya memang terlihat “kuno”. Soal perempuan misalnya. Tan Malaka memang bagian dari sebuah zaman yang belum begitu “direcoki” oleh urusan gender, sehingga peranan kaum perempuan memang tak banyak disinggungnya selain yang terkait dengan urusan keputrian. Kaum feminis boleh menggugat: semestinya ada tokoh Mbakyu! Tidakkah kaum perempuan berhak mempunyai wakil yang turut bertukar jawab dengan kelima tokoh lainnya (yang pria semua), dan bukan hanya diperbincangkan oleh mereka?

 

Situs resmi penerbit Marjin Kiri. Marjin Kiri tidak punya alamat internet lain selain situs ini.

© 2005-2007 PT Cipta Lintas Wacana

 

www.marjinkiri.com | Terakhir diperbarui: 12 Juli 2007